Paul Salopek dan Cerita Lainnya

Ini sudah pukul 2:48 pagi, seharusnya saya sudah terlelap sejak tadi. Apalagi pekerjaan menulis pertandingan NBA ketika matahari naik nanti selalu tidak bisa menunggu. Padahal saya sudah mencoba merebahkan diri; memejamkan mata beberapa kali; menghitung detik-detik supaya tidur ini terjadi. Namun, pikiran saya terus bercokol pada satu hal: Paul Salopek dan perjalanannya menyusuri jejak migrasi manusia modern.

Pada dasarnya, Salopek adalah seorang jurnalis yang andal. Dua Pulitzer yang ia raih menegaskan posisinya sebagai salah satu penulis besar dalam dunia jurnalistik. Salopek adalah seseorang yang luar biasa. Ia merupakan panutan dalam dunia tulis menulis yang semangatnya patut diacungi jempol. Sebab, bagaimanapun, tidak ada orang segila Salopek dalam menyusuri babad kehidupan manusia yang terus berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Pada mulanya, saya mengenal Salopek lewat serial laporan perjalanan “Keluar dari Nirwana” (Out of Eden). Tulisan-tulisannya di sana memuat cerita Salopek menyusuri jejak migrasi manusia modern dari Afrika ke Amerika selama tujuh tahun (2013-2020). Saat tulisan ini dibuat, mungkin Salopek tengah berjalan ke destinasi selanjutnya. Sebab, ia memang melakukan petualangan ini dengan berjalan kaki. Tidak heran jika ia membutuhkan waktu tujuh tahun untuk menyelesaikannya. Itu pun kalau tepat waktu. Mudah-mudahan. Doa yang terbaik untuk Salopek.

Sambil melintasi tiap petak wilayah dalam perjalanan itu, Salopek sebenarnya juga tengah berusaha mengembangkan sebuah model baru untuk bercerita mendalam. Ia menyebutnya sebagai jurnalisme lambat (slow journalism).

Ketika internet belakangan ini membuat semua hal semakin cepat, kata Salopek, ada kalanya manusia perlu mengatur irama untuk melihat hal lain dengan tidak tergesa-gesa. Salopek ingin kita meluangkan waktu untuk berhenti di jalan; berbicara dengan orang-orang yang dijumpai; tidak sekadar mencari informasi, tetapi juga makna itu sendiri. Sebab, ia memandang dunia ini sebagai sesuatu yang kompleks. Kita membutuhkan lebih dari sekadar potongan-potongan informasi.

Pendapat Salopek itu sedikit-banyak memengaruhi pandangan saya tentang kehidupan. Bagaimanapun, ketika saya mulai pindah dari kota besar ke kota besar lainnya, kehidupan semakin terasa cepat saja. Dari Sukabumi ke Bandung, irama kehidupannya berbeda. Begitu pun ketika saya pindah dari Bandung ke Surabaya. Saya melihat orang-orang bersaing setiap hari. Entah dengan orang lain atau dengan dirinya sendiri. Tipikal masyarakat urban yang semuanya harus bersaing dengan terburu-buru.

Paul Salopek dan pemandunya tengah berjalan menyusuri jejak migrasi manusia modern dari Afrika ke Amerika. Foto: John Stanmeyer/National Geographic

Sebagai seseorang yang bekerja di media massa, saya pun dituntut untuk serba cepat. Ketika menulis pertandingan NBA, misalnya, saya hanya punya waktu 10-20 menit untuk menulis dan mengunggah laporannya di situs berita. Ada tenggat yang harus terpenuhi saat itu, sehingga kadang membuat saya stres sendiri. Namun, sisi baiknya, tenggat waktu melatih saya untuk menjadi taktis. Saya harus banyak akal agar bisa terus berkembang. Apalagi informasi di era modern ini akan cepat basi seandainya kita tidak menulisnya dengan cepat. Kehadiran media sosial membuat tantangannya semakin nyata.

Coba tengok beberapa platform media sosial kita. Instagram, misalnya, menyediakan berbagai informasi yang mengalir begitu cepat. Skor akhir pertandingan NBA saja bisa langsung dimuat dalam beberapa menit atau malah detik. Cuplikan-cuplikan videonya bahkan sudah terpampang di sana selagi pertandingan berjalan. Kemudian, bayangkan, penulis-penulis lambat seperti saya harus bersaing dengan irama yang sama cepat. Kadang rasanya memang melelahkan sehingga saya membutuhkan wadah lain untuk menyeimbangkan itu. Di sinilah peran blog menjadi salah satu alternatif yang baik. Setidaknya bagi saya.

Dengan menjadi seorang narablog, saya tidak perlu menulis dengan cepat, terutama karena ini blog saya pribadi. Saya hanya perlu menikmati proses menulis supaya pembaca juga nyaman dengan tulisan saya. Inginnya, ketika pembaca mengunjungi Rumah Gagah, mereka bisa pulang dengan mendapat suatu pelajaran yang berharga. Dalam bahasa Salopek, mereka tidak hanya mendapat potongan-potongan informasi, tetapi juga makna. Ini jadi seperti meluangkan waktu untuk berhenti di jalan, lalu berbicara dengan orang-orang yang dijumpai. Saya tidak perlu terburu-buru. Ada waktu untuk memikirkan cerita dan pesan apa yang ingin saya sampaikan.

Untuk sampai kepada pembaca, pesan tersebut harus dikerjakan dengan menikmati proses itu tadi. Jika menulis cepat malah membuat saya stres, ada kemungkinan itu menular lewat tulisan. Saya tidak mau meracuni pembaca dengan hal negatif seperti itu. Untungnya, seingat saya, belum ada tulisan saya yang dikerjakan dengan terpaksa. Semuanya dijalani dengan ikhlas sehingga pikiran stres tidak memengaruhi tulisan terlalu banyak. Bahkan salah tik pun hampir tidak ada. Saya berusaha untuk cermat meski tertekan sekalipun. Alhasil, pembaca tidak ikut stres. Semoga.

Kendati demikian, saya tetap saja membutuhkan penyeimbang. Ketika pekerjaan banyak menuntut saya untuk terus produktif, saya perlu wadah lain untuk bersenang-senang. Sesuatu yang tidak harus mengejar target. Sejauh ini, blog yang baru diaktifkan lagi ini kebetulan berfungsi begitu. Apalagi saya baru saja mendapat semacam “wejangan” dari seorang teman yang kebetulan bijaksana karena suka membaca.

Arif Hidayat, garda utama CLS Knights Indonesia, berpose di GOR Kertajaya, Surabaya, Jawa Timur. Foto: Awan Yosi/Mainbasket

Beberapa waktu lalu, saya berbincang-bincang dengan Arif Hidayat. Arif adalah seorang pemain bola basket profesional yang tengah membela CLS Knights Indonesia di ASEAN Basketball League (ABL). Dari Arif, saya belajar tentang bagaimana mengubah hobi yang tiba-tiba membuat stres menjadi menyenangkan lagi.

Arif menuturkan, pada satu waktu, ia sempat merasa bosan dengan bola basket. Ia merasa tertekan karena olahraga permainan itu ternyata berjalan tidak seperti apa yang dibayangkannya. Hidup sebagai seorang profesional malah membuatnya tertekan, cenderung membebaninya malah. Namun, pada satu waktu lainnya, ia menemukan sebuah artikel yang mengubah segalanya. Ia membacanya dengan seksama untuk mendapat intisarinya.

Kepada saya, Arif membagikan artikel yang ia baca itu. Judulnya “4 Ways to Have the Most Fun Playing Basketball”. Artikel itu dimuat di situs resmi PGC Basketball, sebuah sekolah bola basket di Amerika Serikat, dengan konsentrasi kamp olahraga untuk melahirkan pemain berkualitas. Di sanalah ia menemukan satu saran tentang menghindari jebakan tingkat lanjut (avoid the ‘next level’ trap). Maksudnya, kita sering terjebak oleh target-target tinggi yang pada akhirnya membuat kita lupa untuk bersenang-senang.

Sebagai contoh, James Naismith, seorang pengajar di Springfield College, menciptakan bola basket supaya anak-anak didiknya bisa beraktivitas di dalam ruangan. Kebetulan, saat itu, New England tengah menghadapi musim dingin yang ganas. Naismith pada dasarnya menciptakan bola basket untuk rekreasi, bukan sebagai alat untuk mendapat beasiswa; untuk dilihat orang lain; atau untuk hal-hal yang terlalu ambisius lainnya.

Artikel di situs PGC Basketball tadi menjelaskan, alasan besar pemain muda di sekolah menengah untuk bermain bola basket rata-rata adalah karena beasiswa. Mereka saling bersaing karena beasiswa. Itulah masalahnya.

Ketika kita hanya memikirkan soal beasiswa, hal itu membuat kita tidak mungkin menjadi rekan setim yang baik. Istilahnya, kita jadi punya suatu agenda sendiri sampai lupa untuk bermain tim. Kita ingin dilihat, kita ingin karir kita meningkat. Namun, itu justru membebani pikiran kita pada akhirnya. Kita lupa pada akar mengapa bola basket itu diciptakan dan untuk apa olahraga dimainkan. Kita lupa bagaimana cara mencintai dengan benar tanpa berubah menjadi robot yang terbebani dengan target-target. Kita lupa menikmati proses sampai kepala rasanya akan meledak.

Oleh karena itu, sebaiknya kita kembali pada akar rumput sambil mengingat lagi apa sebenarnya yang ingin kita lakukan. Sekali lagi, ini seperti apa kata Salopek, kita perlu meluangkan waktu untuk berhenti di jalan, lalu berbicara dengan orang-orang yang dijumpai. Maksudnya, ketika kehidupan sudah berjalan terlalu cepat, kita perlu menyesuaikan irama lagi untuk sejenak memikirkan ulang apa yang hendak kita sasar. Blog inilah wujud dari penyesuaian irama yang tengah saya lakukan. Saya ingin aktif menulis lagi di blog sambil mencintai prosesnya tahun ini. Saya ingin menulis tentang kehidupan seperti Salopek menulis laporan perjalanannya.

Surabaya, 13 Januari 2019

Advertisements

4 thoughts on “Paul Salopek dan Cerita Lainnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s